oleh

Romida Siburian, Anak Vourhanger Yang Jadi Pendeta

example banner

Medan, Metro Investigasi | Meraih prestasi  secara profesional bukanlah seperti membalikan telapak tangan. Prestasi itu sangat ditentukan waktu dan pengorbanan yang cukup panjang. Sehingga secara perlahan melaui ujian dan  kesabaran dapat dicapai. Setidaknya dengan tekad, doa lebih diutamakan yang merupakan salah satu modal dalam mencapai tujuan.

Hal ini, yang mengantarkan sosok wanita kelahiran Bandar Habatu 8 Mei 1968 ini, usai menamatkan pendidikan di Medan hijrah ke Jakarta untuk mewujudkan cita-citanya. Walau diakuinya jauh sebelumnya dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi pendeta apalagi untuk menjadi seorang dosen yang kini menyandang gelar dengan nama lengkapnya Pdt.  DR Romida Siburian, MTh.

Sejak remaja dirinya terus belajar hingga beberapa kali berpindah dari Lintongnihuta kampung halaman orangtuanya, yang kemudian pindah ke Bandar Habatu yang  sang Ayah guru M Siburian dan Ibunya L Sianturi harus mengabdikan dirinya sebagai Vourhanger (guru agama Kristen) dan sekaligus sebagai Sintua bertugas disalah satu gereja di Bandar Habatu, dan bertugas selama lebih kurang 35 tahun.

Menapak tugas Ayahandanya, Pdt.   DR Romida Siburian, MTh putri ke 7 dari 9 bersaudara ini  membuat tekatnya untuk menginjakan kakinya dikampung halamannya tersebut serta mengisi khotbah di gereja dimana tempat ayahandanya yang pernah bertugas itu. Mengenang jasa mendiang ayahandanya itu pula, beliau menjadi sosok yang penyabar dan pelayan.

Masa remaja saat mengecap pendidikan di Medan menjadi pengalaman panjang dalam sejarah hidupnya. Begitu melangkah di ibukota Romida Siburian  yang akrab disapa teman-temannya dengan nama kecilnya Ida itu, telah tumbuh menjadi sosok wanita yang ramah, mudah senyum sehingga sukses meniti   karir.

Dalam meniti karirnya sebagai seorang  pendeta sekaligus sebagai dosen disalah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Ida meningkatkan Pofesinya  untuk lebih professional, termasuk untuk berkhobah dibidang keagmaan yang digelutinya sejak beberapa tahun silam.

Ida yang merupakan isteri salah seorang anggota TNI, selalu setia mendampingi suaminya hingga akhir hayat suaminya yang bermarga Nababan itu terlebih dahulu dijemput Tuhan tepatnya tahun 2014 silam. Namun hingga saat ini Ida tidak berputus asa untuk mengejar memipinya dan tahun 2018 yang lalu Ida berhasil meraih Sarjana Srata Tiga (S-3) dengan gelar DR. Sehingga secara lengkap sudah dengan deretan gelar disepanjang namanya Pdt. DR Romida Siburian, MTh.

Sebelum sukses sebagai pendeta dan dosen, Ida  yang sebelumnya juga pernah sebagai sales kosmetik, sales asuransi dan banyak lain yang dapat dikerjakannya dalam rngka mengejar mimpinya sebagai orang yang memiliki reputasi dan prestasi. Dalam kesempatan yang baik didukung doanya, akhirnya Ida dapat bekerja di DGI, dari tempat ini yangmengantarkannya ketingkat karir yang lebih baik.

Apa yang diraihnya merupakan anugrah dari yang maha kuasa, sehingga patut untuk kita syukuri, jelasnya ketika ditanya tentang kiat suksesnya Ida dalam mencapai gelar hingga ke jenjang S-3 itu. Sambil tersenyum, tidak banyakmemaparkan, namun yng pasti rasa syukur aja, terangnya.

Merupakan suatu kebnggaan bagi keluarganya dan sanak saudara lainnya, sosok seorang pendeta yang lahir dan melanjutkan perjuangan ayahanda. Ida mengakui walaupun dirinya bukanlah harapan untuk menjadi pengganti sang Ayah sebagai pendeta.

“Sebenarnya Ayahku tidak berharap aku untuk menggantikan dan melanjutkan karirnya, melainkan abangku yang paling tua, akan tetapi yang mendapatkan berkah itu aku”, namun Tuhan berkehendak lain, terangnya ketika ditemui dikediaman kakaknya Jl Denai Gang Pena Medan, saat beliau berkunjung ke Medan dalam beberapa agenda yang dilaluinya.

Ida yang kini telah menjadi sosok pengkhobah dalam menyebarkan agamanya hingga kepelosok daerah seperti daerah Kalimantan, Papua dan daerah lainnya juga sudh pernah di kunjunginya menghadiri undangan.

Sebagai pendeta, yang religius dirinya terus memacu pengalaman serta ingin belajar terus daripengalaman. Membangun karakter diri, dan menjaga kualitas itu adalah selalu yang diimpikannya, sehingga dia juga bersedia mengajar ditingkat SLTA di sekolah Taruna AL, terangnya. Untuk membagi ilmu pendidikan kepada orang banyak janganlah selalu menilai tempat dan daerahnya.

Agar ilmu itu, dapat dibagikankepada orang banyak sehingga kita bisa berguna bagi orng banyak, terangnya saat hendak bertolak ke Pangkalan Kerinci Riau dalam tugas mulianya. Karakter diri, untuk mengejar profesionalisme itu, diakuinya banyak tantangan dilapangan, sehingga kita harus mampu merealisasikan antara pratisi dan teori yang ada selama kita masih mau belajar pasti ada jalan yang diberikan Tuhan, katanya sambil melemparkan senyum dibalik wajah keibuan yang dimilikinya.(Rafli)

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed