oleh

Pintu Bendungan Irigasi Serapuh Rusak, Perhatian Pengelola Patut Dipertanyakan

example banner

example banner

 

Loading...

Simalungun | metroinvestigasi.com — sulitnya pasokan air untuk kebutuhan tanaman padi di wilayah pertanian serapuh sekitarnya mulai mendapat titik terang, pasokan air yang saat ini sangat di butuhkah untuk masa usia tanam mencapai dua bulan masih sangat minin dan mengancam pertumbuhan tanaman padi yang akan berakibat gagal panen. Seperti yang sudah di muat di edisi sebelamnya, 92 hektar tanaman Padi milik petani Kekurangan air.

Sulitnya pasokan air irigasi serapuh bukan hanya karena musim kemarau yang hampir dua bulan berjalan, tapi ada faktor tertentu yang sangat mempengaruhi kurangnya debit air yang mengalir. saat awak media melakukan penelusuran ke lokasi bendungan pintu air yang berada di areal HGU perkebunan PTPN 3 kebun bangun yang masih berada di Nagori Serapuh Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun pada hari Selasa 17 maret 2020 sekira pukul 16.40 wib.

Saat penelusuran di lokasi yang dimaksud, terdapat beberapa orang anak yang di perkirakan antara usia 12 – 15 tahun sedang asyik bermain di lokasi bendungan,  aktivitas mereka diduga kuat sebagai biang kurangnya pasokan air di saluran irigasi. Seperti tanpa disadari, kegiatan yang membuka tutup pintu bendungan  sangat mempengaruhi pasokan air yang saat ini musim kemarau.

Saat ditanya, salah satu dari mereka mengatakan akan mencari ikan di saluran air irigasi, dengan di bukanya pintu bendungan maka secara otomatis air akan terbuang hingga memudahkan mereka untuk mencari ikan. ” biar kering paritnya, jadi mudah tangkap ikan, ” kata salah satu dari mereka.

Kegiatan buka – tutup pintu bendungan sangat mudah dilakukan remaja pencari ikan, pasalnya drat ulir pengunci pintu bendungan sudah terlihat rusak dan patah pada bagian penyangga. Tampak pula dua batang kayu penyangga pintu bendungan yang diduga sebagai alat mekanikal pembuka pintu yang nyaris rusak. Selain itu, ternyata pintu bendung sudah tidak berfungsi lagi dengan baik di bagian paling bawah, sehingga membentuk rongga yang cukup besar yang mengakibatkan air terbuang.

Masih di lokasi, salah seorang pekerja pencari pasir sempat di temui awak media metroinvestigasi.com  untuk di mintai keterangan, tanpa mau menyebutkan nama dia mengatakan, kegiatan mencari pasir selalu dilakukan hampir setiap hari. Menurutnya, kekurangan air sudah berjalan selama kurang lebih dua bulan lama lamanya, hal ini di katakan karena selama dua pulan hampir tidak hujan.

“Sudah hampir dua bulan belum datang hujan, kalau hujan tidak turun maka air pasti kecil seperti ini,” katanya.

Ditanya soal para pekerja perairan, penambang pasir yang sudah sejak lama di gelutinya mengatakan, ” akh!!! jarangnya nampak orang itu, pas musim terang begini. kalau musim banjir entahlah, karena kalau banjir aku tidak bekerja di sini pak,” tambahnya.

Saat di tanya tentang pengalihan air untuk keperluan lain, Ia mengaku tidak mengetahui.

Dari penelusuran dan informasi yang di dapat di lokasi, penyebab minimnya pasokan air di duga kuat kurangnya perhatian dan pengawasan. Hal ini seperti yang telah di muat pada edisi sebelumnya. Beberapa orang  petani menilai kalau para pegawai pengelola air irigasi DI serapuh terbukti lamban dan terkesan malas bekerja. (Hi.ss)

example banner

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed