oleh

Petani Jalan Kaki Untuk Mencari Keadilan Ke Istana Presiden

example banner

 

Batubara |  metroinvestigasi.com – Untuk kesekian kalinya ruang hidup petani telah dirampas, Petani tidak mendapatkan perlindungan dari Negara.

Salah seorang pengurus atau pembina dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu ( STMB) mengatakan kepada awak media ketika melintas di Jalinsum Kabupaten Batubara, Selasa (30/06/2020).

Kami para petani dari Dusun Bekala Desa Simalingkar A dan Desa Sei.Mencirim Kabupaten Deli Serdang yang bergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB ) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) akan melakukan aksi jalan kaki ini dari Medan Sumatera Utara akan menuju Istana Negara di Jakarta hanya semata – mata untuk mencari keadilan kepada Presiden Bapak Joko Widodo agar dapat mendengar keluhan dan jeritan semua para petani yang bergabung.

Aksi jalan kaki ini dilakukan pasalnya pada areal lahan dan tempat tinggal yang telah kami kelola dan kami tempati sejak tahun 1951 telah digusur paksa oleh korporasi plat merah bernama PTPN II, Padahal kami telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984, yang parahnya sebanyak 36 petani di Sei. Mencirim yang ikut tergusur adalah yang sudah memiliki Sertifikat Hak Milik ( SHM).

Adapun luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN II, adalah seluas lebih kurang 854 Ha dan luas area yang berkonflik antara petani yang bergabung dalam STMB dengan PTPN II adalah seluas lebih kurang 850 Ha dan tuntutan petani STMB adalah seluas lebih kurang 323,5 Ha.

Yang mana pada tahun 2017 petani yang menempati dan mengelola lahan / tanah sejak tahun 1951 dikejutkan dengan pemasangan plang oleh pihak PTPN II Deli Serdang yang tertulis Nomor Sertifikat Hak Guna Usaha No.171/2009 di Desa Simalingkar A.

Selanjutnya pihak PTPN II dikawal oleh ribuan aparat TNI & POLRI menggusur / mengokupasi lahan – lahan pertanian yang dimiliki masyarakat dan menghancurkan seluruh tanaman yang ada didalamnya.

Hal tersebut sontak memicu perlawanan dari masyarakat Desa Simalingkar A, Desa Duren Tunggal dan Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara hingga terjadi bentrokan antara masyarakat dengan aparat keamanan.

Disaat bentrokan tersebut ada puluhan petani terluka dan puluhan petani lainnya ditahan di Polsek hingga Polres dan dibawa Kekantor Zipur ( KODIM ), “Sampai saat ini ” ada 3 petani yakni Ardi Surbakti ,Beni Karo – Karo dan Japetta Purba masih dikriminalisasi, mereka ditangkap tanpa diberikan surat panggilan dan tidak memperlihatkan Surat Perintah Penangkapan terlebih dahulu dan tidak berdasarkan azas Praduga Tidak Bersalah.

Selama bertahun-tahun kami para petani di Desa Simalingkar A dan Sei. Mencirim telah berupaya untuk mengadukan nasib kepada Bupati Deli Serdang dan DPRD Tingkat II Kabupaten Deli Serdang, Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Deli Serdang hingga DPRD Sumatera Utara dan Gubernur Sumatera Utara, namun hingga saat ini belum ada mendapatkan tanggapan dan penyelesaian yang jelas dari pihak – pihak terkait.( SR )

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed