oleh

Kemendikbud Imbau Sekolah Bentuk Tim Cegah Kekerasan

example banner

example banner

Jakarta- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengimbau sekolah untuk sigap menanggapi kasus kekerasan seperti yang terjadi pada SMP Seminari St Maria Bunda Segala Bangsa, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Loading...

Kasus kekerasan terjadi di sekolah itu ketika puluhan siswa SMP dipaksa untuk mencicip kotoran tinja oleh para seniornya.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Ade Erlangga mengatakan pihaknya mengimbau kepada sekolah untuk menaati Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015.

“Dan segera membentuk tim pencegahan tindak kekerasan, agar tidak terjadi lagi kasus-kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan,” kata Ade melalui keterangan yang diterima, Rabu (26/2).

Ade menyebut tim pencegahan kekerasan itu sudah sesuai dengan aturan tersebut yang mengatur pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.

Ia menilai pengelola sekolah dan pemerintah daerah mestilah sigap menanggulangi kasus kekerasan di sekolah. Sanksi tegas juga mesti diatur dalam aturan yang jelas.

“Pencegahan mengharuskan sekolah, guru dan pemerintah daerah untuk menyusun langkah-langkah pencegahan tindak kekerasan. Termasuk penyusunan prosedur anti kekerasan dan pembuatan kanal pelaporan, berdasarkan pedoman yang diberikan Kemendikbud,” kata Ade.

Selain itu Ade juga mengatakan pihaknya mengapresiasi laporan warga terkait kasus ini. Ia pun mendorong agar pendidikan karakter diberikan maksimal di sekolah.

Ditemui pada kesempatan terpisah, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan perkara perpeloncoan dan bullying jadi salah satu prioritas utama yang jadi perhatian. Ia menilai banyaknya isu kekerasan makin membuktikan bahwa siswa butuh penguatan karakter.

“Memang kita harus mengakui ada berbagai macam hal yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita belum bisa menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar menguatkan akhlak dan karakter anak-anak itu,” kata Nadiem di Jakarta Pusat.

“Namun pada saat ini, kami belum bisa mengungkapkan apa yang akan dilakukan. Tapi ini menjadi prioritas,” ungkapnya.

Siswa kelas VII di SMP Seminari St. Maria Bunda Segala Bangsa sebelumnya didapati telah dipaksa mencicipi tinja oleh seniornya.

Kasus ini bermula setelah salah satu siswa buang air besar dan menaruh kotorannya dalam plastik di sebuah lemari kosong di kamar tidur unit bina SMP kelas VII.

Senior kelas XII kemudian menemukan kotoran tersebut. Mereka lalu mengumpulkan 77 siswa kelas VII itu di asrama dan menyuruh puluhan siswa itu mengambil kotoran tersebut dengan sendok dan menyentuhnya dengan bibir atau lidah. (cino)

example banner

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed