oleh

Hampir Dua Bulan Tidak Hujan, 93 Ha Sawah Terancam Gagal Panen

example banner

example banner

Simalungun | metroinvestigasi.com – Petani pengguna air daerah irigasi serapuh (DI) mulai cemas sejak sebulan lebih hujan tidak kunjung turun.  Beberapa orang petani rela tidak tidur sampai dini hari hanya untuk mencari air atau menunggu giliran untuk mengairi sawah  yang sudah melewati musim tanam.

Loading...

Beberapa wanita buruh tani tampak sibuk membersihkan lahan sawah sembari menjaga pasokan air agar bisa mengairi seluruh areal sawah, berharap air cukup untuk kebutuhan tanaman padi hingga musim panen nanti. Di tempat yang berbeda seorang wanita tengah baya yang biasa dipanggil Mbok Iyem (65) warga Nagori Margomulyo Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun Sumatera utara, Ia rela bekerja di bawah teriknya panas matahari hanya untuk menunggu giliran dapat pasokan air di sawah lahannya sendiri pada hari Jumat, (13/03/2020 ).

Mbok menceritakan, sulitnya pasokan air sawah saat ini mengharuskan mereka untuk  bertahan lama di sawah di bawah teriknya matahari karena jika tidak maka kebutuhan air untuk tanaman padi tidak akan tercukupi, tidak hanya itu, para petani juga harus rela menunggu sampai larut malam bahkan hingga dini hari hanya untuk menjaga aliran air sawah kebutuhan tanaman padi tercukupi, tak jarang para petani sampai adu mulut agar dapat bagian aliran air.

“Jika tidak dijaga, kita tidak akan dapat air, makanya kami juga harus rela malam datang ke sawah bahkan sampai subuh hanya untuk dapat giliran,“ katanya pada wartawan.

Menurutnya, jika hal ini berlangsung lama maka akan berdampak gagal panen. Di katakan lagi, tanaman yang sudah berusia satu bulan sangat membutuhkan air, karena pada saat ini waktunya musim pemupukan, jika kekurangan air maka padi akan menguning dan berakibat gagal panen.

” Keluarga saya berharap, saat puasa nanti bisa panen. Tapi kalau begini, jangankan panen, yang ada malah rugi ” katanya dengan penuh harap. Di katakan, dalam  ukuran 1 rante (400m2. Red) kami sudah bermodal hampir Rp 500.000, ( lima ratus ribu rupiah). ” lahan ini milik keluarga kami yang luasnya 7 rante, jadi kalau sempat rusak karena kekeringan maka kami akan mengalami kerugian yang cukup besar bagi Keluarga kami. ” Tambahnya.

Terpisah, Kasi M Noor. BA ketua Gabungan Perkumpulan kelompok Tani Pemakai air Tiga Serangkai (GP3A) dI Serapuh saat di konfirmasi pada hari yang sama mengatakan, ” kekurangan air bukan semata – mata karena musim kemarau saja, tapi ada dua faktor penyebab kurangnya pasokan air di serapuh. Pertama adalah pengalihan air di hulu DI  yang digunakan oleh petani lain yang akhirnya dibuang ke Sungai Bah Bolon, sehingga pasokan air tidak sampai ke sawah para petani. Kedua adalah, hilangnya sumber mata air rawa – rawa blok Sarinah yang berada di lahan HGU PTPN III Kebun Bangun yang beralih fungsi menjadi lahan produktif perkebunan,” terang sang ketua.

Saat ditanyakan, apa upaya GP3A tiga serangkai untuk menyikapi keluhan petani, Kasi M.Noor mengatakan, ” GP3A akan secepat mungkin mencari solusi terbaik dan akan meminta Dinas Pengairan Irigasi untuk cepat mengambil tindakan sebelum lahan seluas 93 HA rusak.” ( Hs )

example banner

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed